Kunjungi Web Kami : Yayasan | TK | SD | SMP | SMA | Boarding School | STKIP Al Hikmah Surabaya
Login | Hubungi kami 031-8289097

Tangan-Tangan yang Dicium Rasul

Nama Pengarang : Syahyuti, Penerbit : Pustaka Hira, Peresensi : Henny Elvandari, S.Kom

Tangan-Tangan yang Dicium Rasul

Rasulullah adalah manusia paling mulia, kekasih Allah yang namanya selalu disandingkan bersamaNya. Siapa kiranya yang beliau ciumi tangannya?

Di dalam buku ini disebutkan bahwa kejadian Rasulullah mencium tangan merupakan peristiwa yang sangat langka dan bermakna. Tidak banyak peristiwa Nabi Muhammad SAW mencium tangan umatnya.

1.      Sahabat Sa’ad bin Mu’adz Ra.

Ketika Rasulullah Saw. pulang dari perang Tabuk, beliau bertemu dengan salah seorang sahabatnya, Sa’ad Ra. Nabi memperhatikan tangannya yang kasar, kering, dan kotor. Ketika disampaikan bahwa tangannya menjadi demikian karena mengolah tanah dan mengangkut air sepanjang hari, serta merta Nabi menciumnya. Sahabat lain bertanya, mengapa baginda Rasulullah SAW melakukannya. Rasulullah SAW pun menjelaskan, itulah tangan yang tidak akan disentuh oleh api neraka, pula tangan yang dicintai Allah SWT karena digunakan untuk bekerja keras menghidupi keluarganya.

2.      Mu’adz bin Jabal Ra.

Rasulullah Saw. juga pernah merasakan tangan Mu’adz bin Jabal yang kasar dan tebal saat bersalaman. Ketika ditanyakan Mu’adz pun menjawab bahwa tangannya demikian karena untuk bekerja keras. Diciumlah tangan kasar, keras dan tebal itu oleh Rasulullah Saw. dan bersabda: “Tangan ini dicintai Allah dan RasulNya dan tidak akan disentuh api neraka!”

3.      Siti Fathimah az-Zahra Rha.

Siti Fathimah az-Zahra putri Rasulullah Saw. tangannya juga kasar dan keras. Tapi Rasulullah Saw. dengan penuh perhatian mencium tangan putrinya tersebut. Karena tangan itu digunakan untuk bekerja keras menggiling gandum di rumahnya, menyiapkan makanan bagi kedua putranya dan sang suami.

 

Tiga tangan yang dicium Rasulullah manusia termulia tersbut, bukanlah milik orang kaya, atau berpangkat, melainkan tangan-tangan yang bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Rasulullah Saw. mencium tangan mereka sebagai penghargaan akan ibadah mereka.

Riwayat-riwayat di atas menggambarkan betapa Islam sangat menghargai orang-orang yang memiliki etos kerja yang tinggi. Orang yang bekerja dapat dikatakan sebagai jihad fi sabilillah, seperti sabda Nabi Saw.: “Siapa yang bekerja keras untuk mencari nafkah keluarganya, maka ia adalah mujahid fi sabilillah.” (HR. Ahmad).

Rasulullah Saw. juga bersabda: “Barangsiapa yang di waktu sorenya merasa kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapatkan ampunan.” (HR. ath-Thabarani dan al-Baihaqi).

Seperti halnya Sa’ad yang hitam dan melepuh tanganya karena bekerja, maka tatkala seseorang merasa kelelahan bekerja akan dibalas oleh Allah Swt. dengan ampunanNya saat itu juga dan dikategorikan jihad fi sabilillah.