Kunjungi Web Kami : Yayasan | TK | SD | SMP | SMA | Boarding School | STKIP Al Hikmah Surabaya
Login | Hubungi kami 031-8289097

Strategi Komunikasi Model Sang Nabi

Pengarang : M. Najmi Fathoni, M. I, Penerbit : PT Elex Media Komputindo, Peresensi : Adi Purnomo, S.S.

Strategi Komunikasi Model Sang Nabi

Mencermati sosok Sang Nabi tentunya tidak akan habis kita dari segala sisi. Kali ini, buku ini mencermati dari sisi cara berkomunikasi Sang Nabi sebagi pribadi maupun sebagai sosok pemimpin.

Terkait proses komunikasi, dibalik suksesnya komunikasi Sang Nabi, baik dari sisi pribadi maupun dalam menjalankan kepemimpinan, tidak terlepas dari proses komunikasi yang meliputi unsur:

 

  1. Pembentukan diri sebagai komunikator yang kredibel dan kompeten.

Sosok Nabi sebagai komunikator, baik sebagai komunikator maupun sebagai pemimpin dengan kedua karakteristiknya tadi (kredibel dan kompten) tercermin dalam isi buku ini. Begitu juga dengan sifat-sifatnya yang lemah lembut tetapi tegas, pembawaannya yang tenang dalam situasi dan kondisi apapun, serta sifat-sifat yeng menunjukkan kewibawaan dan kharismatik beliau.

Begitu pula ustaz-ustazah yang tentunya banyak menjadi komunikator untuk menyampaikan ilmu di hadapan anak didik, harus senantiasa meng-upgrade kemampuan agar kredibilitas dan kompetensi komunikasi lebih nyaman dan penuh makna.

 

  1. Memiliki niat (komunikasi) yang baik

Sebelum penyampaian pesan dilakukan kepada para sahabat, bawahan atau pengikutnya, Sang Nabi, mengawalinya dengan niat yang baik. Pesan-pesan yang disampaikan pun bertujuan yang membaikkan.

Dengan niat yang baik potensi kebaikan selalu menyertai proses komunikasi beliau terlepas dari terwujud-tidaknya respons yang diharapkan pada diri sasaran bicaranya (komunikan). Landasan niat yang baik dan tulus dalam menyampaikan pesan-pesan positif dan konstruktif kepada bawahan, pengikut dan orang-orang menjadi kekuatan dan daya tarik tersendiri pada diri Nabi SAW, sebagai komunikatornya.

 

Buku “Kecerdasan Komunikasi Sang Nabi SAW’ ini dibagi menjadi dua bagian besar: Bagian I: Metode Komunikasi; Bagian II: Komunikasi Kepemimpinan. Pembagian ini bukan bermaksud untuk memisahkan keduanya dari proses komunikasi Sang Nabi, melainkan bertujuan teknis penulisan. 

 

  • Berkomunikasi melalui kekuatan Iman

Ujian terbesar untuk menguji ketenangan seseorang dalam berkomunikasi bukan ketika dia berdiri di hadapan orang banyak, bukan saat seseorang lemah karena status sosial atau ekonomi harus menyampaikan sesuatu di hadapan seorang pembesar. Namun ujian terbesar dalam berkomunikasi tampak ketika seseorang tiba-tiba dihadapkan pada tantangan dan ancaman. (Hal. 137)

Ketenangan Nabi SAW ketika menghadapi ancaman Da’sur adalah cerminan dari keyakinan terhadap pertolongan Allah SWT. Demikian pula seharusnya, guru/pengajar mampu berkomunikasi dengan tenang dan nyaman meski siswa-siswa dalam kelas menunjukkan sikap yang dapat mempengaruhi jalannya pembelajaran. Berikan pemahaman yang penuh kekuatan iman untuk mendinginkan sikap anak didik kita semua juga untuk meredam prasangka dalam diri kita.

 

  • Berpikir Positif

Selalu mengingatkan diri kepada Allah dan menghadirkan-Nya dalam hati, pikiran serta setiap tindakan merupakan landasan kecerdasan komunikasi seseorang. (Hal. 221)

“Allah menurut prasangka hamba kepada-Nya. Allah Bersama Hamba-Nya ketika dia mengingat-Nya. Apabila ia mengingat Allah dalam dirinya, niscaya Allah juga akan mengingatnya dalam diri-Nya.” 

Dengan hadis tersebut, seorang guru mesti menyajikan komunikasi kepemimpinan yang memberikan pemahaman kepada anak didik bahwa keyakinan kepada Allah SWT sering kali harus ditempuh dengan konsekuensi yang logis. Guru yang mempunyai keyakinan ini dapat terlihat dalam pesan-pesan yang tampak pada dirinya, baik yang tampak dari lisan-lisannya (secara verbal), maupun dari sikap, perilaku, dan tindakan-tindakannya (secara nonverbal).