Kunjungi Web Kami : Yayasan | TK | SD | SMP | SMA | Boarding School | STKIP Al Hikmah Surabaya
Login | Hubungi kami 031-8289097

Prophetic Learning (Menjadi Cerdas Dengan Jalan Kenabian)

Pengarang : Dwi Budiyanto, Penerbit : Pro-U Media, Peresensi : Raden Ayu Enni Krisnawati, S.E., M.E

Prophetic Learning (Menjadi Cerdas Dengan Jalan Kenabian)

Belajar dan Mengajar: Menjadi Guru Inspiratif

 

Orang-orang pemberani, berani belajar dan mengajar.

Dan inilah maqom Nabi ‘alaihissalam

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah

 

Jika manusia dididik, ia akan meningkat dari keadaan semula menuju tingkat yang lebih tinggi, hingga ia akan berbeda dengan orang-orang yang tidak terdidik

Hasan al-Banna

 

Setiap manusia adalah guru inspiratif. Untuk menjadi guru yang inspiratif seharusnya belajar sebelum mengajar artinya menguasi ilmu sebelum menyampaikan kepada orang lain. Islam memberikan dorongan kuat buat kita untuk menjadikan program belajar dan mengajar sebagai sebuah kepaduan yang akan membentuk karakter

 

Belajar

Proses belajar Menurut Sayyid Quthb: (1) Belajar untuk memahami (learning how to think), (2) Belajar untuk mengamalkan (learning how to do), (3) Belajar untuk menjadi (learning how to be). Akhir dari belajar adalah membentukpola piker dan pola sikap dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Imam al-Ghazali bahwa pengetahuan manusi memasuki wilayah kepribadian seseorang melalui tiga tahap, yaitu: teori, aplikasi, dan pengalaman. Kita harus mengusasi teori bidang yang kita pelajari, merancang penerapannya, dan memperkaya dengan pengalaman-pengalaman.

Adapun wilayah keilmuan yag harus kita kuasai ada tiga, yaitu: (1) Ilmu yang terkait dengan dasar-dasar pembentukan karakter dan potensi diri kita (bersumber dari ilmu agama dan pengembangan diri). (2) Ilmu yang terkait dengan hubungan sosial (bersumber dari ilmu humaniora, komunikasi, psikologi, dll). (3) Ilmu yang berhubungan dengan pengembangan profesi.

Dalam belajar, kita harus dapat mengoptimalkan diri dengan tiga cara, yaitu: (1) Cerdas dengan menata pikiran. Dari pikiranlah tindakan akan dihasilkan karena kawan dan musuh terbesar kita adalah pikiran kita. Kesenangan dan kesulitan hidup lebih banyak dikondisikan oleh pikiran kita daripada kenyataan onyekyif hidup kita. Kadang kala bukan masalah yang membuat kita menjadi berat tetapi sikap kita dalam menanggapi masalahlah yang menjadi kita berat. Cara menata diri dengan eliminasi (menghilangkan pikiran negatif), substitusi (mengganti pikiran negatif dengan pikiran positif), visualisasi (membuat gambaran nyata), ekspektasi Rabbani/do’a. (2) Cerdas dengan menata Mental. Pikiran menentukan arah, sementara mental memberikan suntikan energi yang akan menghasilkan tindakan. Menata pikiran akan mempermudah kita untuk menata mental. Pikiran positif akan cenderung membentuk mental positif, dan sebaliknya pikiran yang negatif akan mudah mematikan kedasyatan mental. (3) Cerdas dengan menata fisik. Tubuh harus dipersiapkan secara baik agar tubuh kuat menanggung tugas (belajar). Bukan membentuk jiwa yang lemah yaitu daripada sakit lebih baik tidak usah belajar. 

Akal yang tajam, jiwa yang memancarkan kemauan kuat, serta fisik yang sehat dan bugar akan mengantarkan seseorang pada cita-citanya. Akal, jiwa, dan fisik memiliki keterkaitan kuat untuk membuat seseorang menjadi cerdas. 

Memperkaya kecerdasan dengan cara merekayasa lingkungan dengan cara: (1) Berusaha hidup dalam kebaruan, (2) Menyulut kuriositas (keingintahuan), (3) Mengaktifkan otak untuk berpikir, (4) Meningkatkan daya apresiasi seni. Hal ini selajan dengan apa yang disampaikan oleh Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah: pada awalnya berpikir menumbuhkan keingintahuan, keingintahuan melahirkan perbuatan, dan perbuatan yang dilakukan berulang-ulang membentuk kebiasaan.

 

Mengajar

Pada satu sisi, seorang muslim adalah murid yang memiliki semangat belajar membara. Akan tetapi, ia juga sebagai guru yang memberikan ilmunya secara ikhlas kepara orang lain. setiap muslim hakikatnya adalah seorang guru. Guru yang diidamkan adalah guru yang isnpiratif. Adapun karakter guru yang inspiratif adalah mitra belajar aktif bukan pasif, komunikasi yang digunakan adalah dialogis bukan satu arah, fokus pada potensi mitra belajar bukan masalah yang dihadapi, hasil berupa struktur berpikir ilmiah bukan jawaban instan, proses dengan mengembangkan banyak cara/alternatif  bukan menerapkan satu cara dari guru, pandangan terhadap orang lain adalah menganggap orang lain sebagai sahabat dan mitra belajar bukan menganggap orang lain sebagai murid.

Mengajar sekaligus memperkuat pemahaman. Beberapa pakar menjelaskan bahwa ketika kita mengajarkan ilmu pada orang lain maka dalam otak kita akan bekerja untuk mengingat 95% lebih optimal. Adapun persentase otak kita rata-rata mengingat sebagai berikut: 10% apa yang kita baca, 20% apa yang kita dengar, 30% apa yang kita lihat, 50% apa yang kita dengar sekaligus lihat, 70% kalau dibicarakan dengan orang lain, 80% jika kita mengalami atau mempraktikan, 95% jika kita mengajarkan pada orang lain.

Alam menjadi sumber inspirasi bahwa kita membutuhkan kebersamaan dalam proses belajar mengajar (sinergi berjamaah yang mencerdaskan). Pelajaran pertama: ketika angsa mengepakkan sayapnya. Sekawanan angsa selalu terbang menuju daerah yang lebih hangat dengan membentuk formasi V. meraka bermigrasi dari daerah dingin. Terbang dengan formasi ini, ternyata menambah daya terbang mereka. Jika angsa depan letih, ia akan pindah ke belakang dan membiarkan angsa lainnya memimpin. Setiap kali angsa keluar dari formasinya, dia akan mengalami daya tahan udara yang besar dan kesulitan terbang sendiri. Akhirnya, ia akan kembali ke dalam formasi. Angsa-angsa itu juga bersuara secara serempak saat terbang. Cara ini bertujuan memberikan semangat kelompok sekaligus memupuk motivasi angsa yang berada di depan. Dengan cara ini pula mereka memiliki ritme terbang yang sama. Jika ternyata ada angsa yang sakit atau letih dan keluar dari formasinya, dua angsa lain akan mengikutinya turun. Mereka akan melindungi dan menolong angsa yang keluar formasi itu. Dua angsa itu akan menunggui angsa sakit itu hingga sembuh atau mati. Lalu, mereka akan segera bergabung dalam formasi atau menciptakan formasi sendiri untuk menyusul kelompok terdahulu. Pelajaran kedua: berguru pada semut. Semut memiliki koloni yang memiliki system kehidupan sosial yang sangat canggih. Semut mengelola kehidupan koloninya melalui kerja sinergi yang lura biasa. Ada semut ratu yang bertugas dalam hal reproduksi koloni. Semut jantan yang membuahinya mati, begitu menyelesaikan tugas pembuahannya. Ada semut pekerja yang merupakan semut betina yang steril. Mereka bertugas merawat bayi-bayi semut, membersihkan danmemberi mereka makan. Jika musin paceklik, semut pekerja berubah peran sebagai pemberi makan bagi sesamanya. Mereka memberi partikel makanan yang berasal dari tubuhnya. Ada juga semut yang bertugas membangun koloni dan menemukan likasi tempat tinggal dan berburu. Semut jenis ini juga berperan dalam pertahanan dan keamanan koloni. Jika ada burung mendekati sarang, mereka mengarahkan perut menutupi lubang sarang dan menyemprotkan  zat asam ke arah burung. Sistem pertahanan lain yang dimiliki semut adalah menutup lubang sarang dengan kepala-kepala semut apabila ada bahaya yang mengancam. Semut juga memilki keunikan yang lain. mereka mambangun jalan-jalan panjang secara bersama-sama. Beban yang berat akan mereka bawa bersama-sama pula. Kelompok-kelompok semut menetukan waktu-waktu tertentu untuk bertemu menukar makanan. Pelajaran ketiga: masyarakat lebah. Lebah hidup dalam komunitas sosial yang teratur dan terorganisasi dengan baik. Mereka membangun sinergi yang saling mengokohkan. Ada lebah ventilator yang menjaga ventilasi sarang lebah. Mereka menjaga kelembaban sarang, yang membuat madu memiliki kualitas perlindungan tinggi. Suhu sarang harus 350C selama 10 bulan pada tahun tersebut. Pada kelembaban di atas atau di bawah batas ini, madu akan rusak serta kehilangan kualitas perlindungan dan gizinya. Ada juga lebah yang menajaga sarang dari zat-zat lain yang akan masuk. Jika ada zat asing atau serangga memasuki sarang, secara bersama-sama lebah akan membentuk system pertahanan. Meraka akan mengeluarkan suatu zat yang disebut “propolis”.  Sarang yang dibangun lebah dapat menampung 80.000 lebah yang hidup dan bekerja bersama-sama. Sarang etrsebut tersusun atas sarang madu berdinding lilin lebah, dengan ratusan sel-sel kecil pada kedua permukaannya. Semua sel sarang madu berukuran sama persis. Keajaiban teknik ini dicapai melaluim kerja kolektif ribuan lebah. Lebah menggunakan sel-sel ini untuk menyimpan makanan dan memelihara madu. Tidak hanya itu, kerjasama yang harmonis terlihat pula ketika seekor lebah menemukan nectar atau cairan manis yang terdapat pada bunga. Ia akan kembali ke asarang utuk memberitahu lebah lain. informasi itu disampaikan dengan tarian. Tarian yang diulang-ulang mengandung semua informasi tentang sudut, arah, jarak, dan informasi lain tentang sumber makanan, sehingga lebah lain dapat mencapai tempat itu. 

Sinergi adalah memanfaatkan perbedaan, kerjasama, keterbukaan pikiran, menemukan cara-cara baru yang lebih baik. Sinergi bukanlah menoleransi perbedaan, bekerja masing-masing secara mandiri, berpikir anda selalu benar, kompromi dengan yang sudah ada.