Kunjungi Web Kami : Yayasan | TK | SD | SMP | SMA | Boarding School | STKIP Al Hikmah Surabaya
Login | Hubungi kami 031-8289097

Minhaj: Berislam, dari Ritual hingga Intelektual

Penulis : Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil, Ph.D, Penerbit : INSISTS, Peresensi : Syaiful Anam, M.Ag

Minhaj: Berislam, dari Ritual hingga Intelektual

Penulisan buku ini diawali oleh kegelisahan penulis yaitu Prof. Hamid Fahmy dalam menyikapi keberislaman masyarakat muslim modern. Ada empat kisah yang melatarbelakangi penulisan buku ini, kisah pertama dari Syekh bernama Muhammad ‘Abduh yang pada tahun 1884 berkesempatan mengunjungi Paris, Perancis. Dalam perjalanannya tersebut, beliau merasa kagum dengan bagaimana kondisi masyarakat barat yang hidup di Paris saat itu. Penduduknya memiliki etos kerja tinggi alias pekerja keras, ramah terhadap tamu, bersahabat, dan negaranya berkembang maju, bersih, dan teratur, Abduh Ketika mengatakan “Aku melihat Islam di Paris tapi aku tidak melihat muslim, dan aku melihat muslim di Arab tapi tidak melihat Islam). Kisah kedua dari sastrawan asal Libanon, yaitu Amir Syakib Arsalan yang menerima surat dari Rasyid Ridha yang berisi tentang sebuah pertanyaan “ Mengapa kaum muslimin mengalami kelemahan dan kemunduran baik dalam urusan agama maupun dunia? Dan apakah yang menyebabkan kemajuan bangsa Eropa. Kisah ketiga, dari Syekh Mutawalli as-Sya’rawi Ketika ditanya oleh seorang orientalis tentang kebenaran keseluruhan ayat-ayat dalam al-Quran, khusunya Q.S. An-Nisa: 141 tentang janji Allah kalau mukmin tidak akan pernah dikuasai oleh orang kafir. Dan kisah keempat dari Nuim Khayyat yang menjadi seorang penyiar radio terkenal di Australia, yang melihat antusias masyarakat muslim Indonesia dalam menyikapi bulan Ramadhan, tapi dilain pihak korupsi juga masih marak dikalangan umat Islam. Keempat kisah tersebut membawa semangat pertanyaan yang sama: “Mengapa umat Islam dewasa ini mengalami kemunduran yang dahsyat dalam berbagai sektor kehidupan?”.

Buku ini adalah gambaran sederhana tentang bagaimana seharusnya berislam. Bagi yang memahami bahwa Islam itu adalah shariah, akan diajak menelaah Islam pada tingkat di atasnya yaitu berislam pada tingkat aqidah (iman). Jika telah faham tingkat kedua ia akan diajak memahami tingkat selanjutnya yaitu berislam pada tingkat ihsan yaitu berislam dengan penuh kesadaran dalam perilaku baik (akhlaq). Jika telah mengerti semua, maka pembaca akan dibawa pada tingkat berislam dengan fikiran. 

Dengan demikian, keseluruhan buku ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang Islam secara utuh dari mulai memahami makna Islam, kemudian berislam dengan ritual, berislam tingkat iman, berislam tingkat ihsan dan berislam tingkat intelektual.