Kunjungi Web Kami : Yayasan | TK | SD | SMP | SMA | Boarding School | STKIP Al Hikmah Surabaya
Login | Hubungi kami 031-8289097

Lapis-Lapis Keberkahan

Nama Pengarang : Salim A. Fillah, Penerbit : Pro-U Media, Peresensi : Sri Handaru Widiastuti, S.E.

Lapis-Lapis Keberkahan

Cicak di Dinding dan Keyakinan Yang Utuh

 

Hidup kita seumpama buah yang berlapis-lapis ini yang memiliki beraneka bentuk, warna serta rasa, aroma yang diiris-iris ditumpuk berlapis-lapis. Setiap irisan itu ada wangi dan anyir, ada lembut maupun kasarnya, ada manis dan pahitnya, masam juga asinnya. 

 

Seperti itulah kehidupan, kita tentu kadang merasakan manis namun juga tidak lepas kadang ada pahitnya. Tetapi segala hal yang kita rasakan tersebut adalah gizi yang ditetapkan Oleh Allah yang bermanfaat bagi ruh, akal dan jasad kita. 

 

Yang jika ditautkan dalam konsep kebahagiaan dalam hidup, maka penulis mengajak kita untuk  merenungi konsep kebahagiaan. Selama ini bahagia diidentikkan dengan serba nyaman, serba cukup, serba terpenuhi, serba indah, dan yang lainnya. Sebaliknya, serba sakit, serba kekurangan, serba menderita ditafsirkan sebagai ketidakbahagiaan. Padahal, tak sedikit kita dapati orang-orang yang hidupnya sederhana bahkan mungkin kekurangan; namun ia merasa nyaman dan nikmat atas kehidupannya itu. Nikmat itulah yang dinamakan keberkahan. Berkah, yang membuat ketidakberpunyaan menciptakan rasa sabar dan keihklasan. Namun disisi lain jika diberikan kelimpahruahan melahirkan rasa syukur yang tidak terkita.

 

Pada lapis-lapis keberkehan kita diberikan begitu banyak hikmah dan pelajaran dari sosok Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, para sahabat, Nabi dan Rasul, juga dari berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari yang sederhana namun penuh makna. Seperti halnya pada seekor cicak.

 

Seandainya kita seekor cicak, mungkin kita sudah lama protes ke Allah : “Ya Allah engkau salah rancang dan keliru cetak Ya Allah”. Mengapa? Karena cicak ini seperti yang kita tahu adalah hewan dengan kemampuan yang sangat terbatas, hanya bisa merayap, meniti dinfing, langkahnya cermat, jalannya hati-hati. Sedangkan  yang ditakdirkan sebagai makanannya memiliki sayap dan mampu terbang kemana-mana salah satunya adalah nyamuk

 

Mungkin jika cicak ini berfikir sebagai manusia, duh betapa nelongsonya Ya Allah “Bagaimana hamba dapat hidup jika begini caranya. Mangsa saya bisa terbang kemana2 sedangkan saya hanya bisa menempel pada dinding. “Lamban hamba bergerak, dengan tetap harus memijak, sedangkan nyamuk yang lezat itu melayang di atas, cepat melintas, dan ke mana pun bebas”

 

Tapi dari cicak kita bisa belajar bahwa, bagaimanapun keadaan dan kondisi kita

 

  1. Kita Wajib Berikhtiar

Tugas seekor cicak hanyalah berikhtiar sejauh kemampuan, karena soal rizqi Allah-lah yang memberi jaminan. Cicak disini tetap berikhtiar dengan diam-diam merayap, terus berusaha dan tidak putus asa, walaupun mungkin secara akal manusia kadang tidak sesuai logika dan terasa sulit.

 

  1. Allah Berkuasa Mendatangkan Rizki

Allah yang maha kaya, maha pencipta, tiada cacat dalam penciptaanNya

Allah yang maha Kaya atas tanggungan hidup untuk semua yang telah diciptakanNya.

Allah yang maha memberi Rizki

Allah yang Maha Adil maka tidak akan membebani hambaNya sesuai kesanggupannya

Allah maha pemurah dijadikan jalan untuk hambaNya amatlah mudah

Allah datangkan rizki untuk cicak yang sudah berikhtiar tadi seekor nyamuk. Betapa dibandingkan ikhtiar cicak yang diam-diam merayap pada dinding2 rumah, bahkan terlihat seperti mager dan dengan gaya selownya, sedangkan perjalanan nyamuk dengan tubuh kecilnya tersebut untuk mendatangi sang cicak sungguh lebih jauh, lebih berliku dan lebih dahsyat.

Jarak dan waktu memisahkan cicak dan nyamuk, Akan tetapi Allah dekatkan sedekat-dekatnya. Si nyamuk bebas terbang kemana jua tapi Allah bimbing supaya menuju sang cicak yang dengan bersahaja nya menanti kedatangan sang nyamuk.

 

Seperti dalam QS Huud : 6

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

 

Di dalam AlQuran Allah menyebut Daabbah : yaitu ayat yang mewakili binatang-binatang hina bersebab rendahnya sifat mereka, terbelakang cara bergeraknya, kotor keadaannya, liar hidupnya dan bahkan bahaya dapat ditimbulkannya, seperti cicak tadi. Seakan-akan Allah menegaskan  jika binatang rendahan terbelakang, kotor, liar dan berbahaya saja dijamin rizkinya, apalah lagi manusia.

 

Rasulullah SAW bersabda:"Sesungguhnya rizqi memburu hamba, lebih banyak dari kejaran ajal terhadapnya." (HR. Ath-Thabrani dan Ibn Hibban).

 

Dari cicak kita kembali diingatkan untuk meyakini secara utuh bahwa Allah Yang Mencipta menjamin rizqi bagi ciptaannNya. Kita sebagai hambaNya hanya wajib berikhtiar dan berdo’a selebihnya kita pasrahkan kepada Yang Maha Pemberi. Kita juga diingatkan untuk selalu mensyukuri setiap nikmat dan rizki materiil atau non materiil. agar rizki tersebut menjadi rizki yang berkah dan bermanfaat.