Kunjungi Web Kami : Yayasan | TK | SD | SMP | SMA | Boarding School | STKIP Al Hikmah Surabaya
Login | Hubungi kami 031-8289097

Belajar Sepanjang Masa terjemahan dari Learning all the Time

Pengarang : John Holt Peresensi : Lilis Muchoiyyaroh, S.Pd.

Belajar Sepanjang Masa terjemahan dari Learning all the Time

Memaknai Kembali Pembelajaran

 

KEBERHASILAN di sekolah, barangkali ini merupakan salah satu tujuan utama orangtua dan guru ketika menyuruh anak-anak mereka belajar. Namun tidak demikian dengan John Holt, pakar pendidikan yang menulis buku “Belajar Sepanjang Masa” ini, yang merupakan terjemahan dari Learning all the Time.

 

Belajar, bagi Holt, sama alamiahnya dengan bernapas. Anak sudah semestinya tidak dikejar-kejar, dipaksa-paksa atau dimanipulasi untuk belajar keras. Kini saatnya bagi kita untuk merombak proses pembelajaran yang salah kaprah ini. Anak sudah seharusnya dikondisikan agar “belajar" sama nilainya dengan “bernapas." Sebagaimana kita tidak mungkin memaksa anak kita untuk bernapas, maka kita tidak perlu memaksa anak untuk belajar. Jika anak merasa butuh untuk belajar, sebagaimana dia harus bernapas, maka dia akan belajar dengan sendirinya.

 

Salah satu kisah yang menarik dalam buku ini adalah seorang dosen yang mengajar mahasiswanya dengan cara yang unik. Suatu pagi dia meletakkan sebuah piring dengan seekor ikan di atas meja. Lalu, dia bertanya pada para mahasiswanya, apa yang mereka lihat di meja itu. Setiap kali seorang mahasiswa menjawab, dia akan bertanya, “Apa lagi?” sampai seluruh mahasiswa mempunyai ratusan jawaban yang berbeda. Cara ini, menurut Holt, akan memancing (maha)-siswa untuk kreatif dan memberikan jawaban berdasarkan apa yang mereka lihat dan pikirkan.

 

Cara ini jelas sangat berbeda dengan kebanyakan pengajaran sekarang ini. Guru, dosen dan orangtua cenderung mendidik" dengan banyak menjelaskan ketimbang mendengarkan atau bertanya, mereka lebih banyak “memamerkan" kepintaran mereka ketimbang berusaha menaruh “empati” pada jawaban anak-anak (didik) mereka. Ketimbang menjelaskan kegunaan air pada anak-anak, lebih baik kita bertanya pada mereka apa kegunaan air dalam kehidupan kita. Setiap kali mereka menjawab, bertanyalah, “Apa lagi?”

 

John Holt hendak merevolusi cara kita mendidik anak-anak kita. Dengan keras dia memberikan kritikan pada orangtua yang terlalu banyak mengumbar pujian pada anak-anak setiap kali anak mereka melakukan sesuatu. Saat anak ditanya, “2+2 berapa?”, anak akan menjawab, “empat.” Saat itulah, orangtua berebutan memberikan pujian. Pujian ini cenderung akan memasung pola pikir mereka untuk mencari jawaban yang sesungguhnya. Anak akan cenderung “menyenangkan” orangtua ketimbang benar-benar belajar. Anak-anak merasa ketakutan jika orangtua mereka tidak merasa senang dengan jawaban mereka. Ini sungguh berbahaya!

 

Masih banyak contoh “salah-kaprah" pendidikan kita, baik di sekolah maupun di rumah. Buku ini begitu penting dan berharga bagi siapa saja yang benar-benar peduli dengan pembelajaran pada anak-anak, demi masa depan mereka.

 

 

One Chapter 

Halaman 194-215

Tiga PERUMPAMAAN YANG MENYESATKAN

 

LEBIH dari yang mungkin kita sadari, apa yang kita lakukan dalam hidup dan pekerjaan kita amat dipengaruhi oleh perumpamaan-gambaran yang kita miliki di dalam pikiran kita tentang bagaimana dunia berjalan atau harus berjalan. Seringkali gambaran-gambaran ini lebih nyata bagi kita daripada realitas itu sendiri.

 

Pendidikan yang terorganisasi diatur dan didominasi oleh tiga perumpamaan. Beberapa pendidik sedikit banyak mengetahui bahwa pekerjaan mereka berpedoman pada tiga perumpamaan ini, yang lainnya tidak tahu sama sekali, dan yang lain lagi mungkin menyangkal adanya pengaruh perumpamaan tersebut. Tapi disadari atau tidak, perumpamaan-perumpamaan ini amat menentukan yang dilakukan oleh sebagian besar guru di sekolah.

 

Perumpamaan yang pertama mengandaikan pendidikan seperti bagian perakitan dalam sebuah pabrik pengepakan atau pengemasan. Di atas ban yang berjalan lewatlah barisan wadah-wadah kosong dengan berbagai bentuk dan ukuran. Di samping ban berjalan terdapat alat penuang dan penyemprot, yang dikendalikan oleh para karyawan pabrik. Saat wadahwadah berlalu, para pekerja ini menyemprotkan zatzat dalam jumlah beragam—membaca, mengeja, matematika, sejarah, ilmu pengetahuan alam—ke dalam wadah-wadah tersebut.

 

Di atas, manajemen memutuskan kapan wadahwadah tersebut harus diletakkan di atas ban berjalan, berapa lama dibiarkan terbuka, jenis bahan yang harus dituang atau disemprotkan dan berapa kali dilakukan, apa yang harus dilakukan pada wadah yang lubangnya lebih kecil daripada wadah yang lain, atau bahkan mungkin tidak ada lubangnya.

 

Ketika saya membahas perumpamaan ini dengan para guru, banyak yang tertawa dan menganggapnya mengada-ada. Tapi kita hanya perlu membaca serbuan usulan tentang peningkatan mutu sekolah untuk melihat betapa dominannya perumpamaan ini. Hasilnya, laporan-laporan resmi tersebut semuanya mengatakan bahwa kita harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk belajar bahasa Inggris, bertahun-tahun lagi untuk matematika, bahasa asing, dan sains. Dengan kata lain, kita harus menyemprotkan bahasa Inggris ke dalam wadah-wadah tersebut selama empat tahun, misalnya, kemudian matematika selama dua atau tiga tahun dan sebagainya. Asumsinya adalah apapun yang disemprotkan ke wadah tersebut akan masuk ke dalam wadah dan tinggal di dalamnya. 

 

Tampaknya tidak ada yang mengajukan pertanyaan: Bagaimana bisa begitu banyak wadah yang disemprot begitu banyak zat selama bertahun-tahun masih harus keluar dari pabrik dalam keadaan kosong? Dalam menghadapi sebuah abad pengalaman yang berlawanan, para pendidik masih berpegang pada pemikiran bahwa pengajaran menghasilkan pembelajaran dan karenanya semakin diajar, semakin dipelajari. Tak satupun dari laporan yang saya baca mengajukan pertanyaan serius tentang asumsi ini. Bila siswa tidak cukup tahu, menurut kita, ini dikarenakan kita tidak mulai menyemprot sejak dini (misalnya sejak usia empat tahun), atau tidak menyemprotkan zat yang tepat, atau kurang banyak (memadatkan kurikulum).

 

Perumpamaan kedua menggambarkan beberapa siswa di sebuah sekolah sebagai tikus-tikus laboratorium di dalam kurungan, yang dilatih untuk melakukan suatu trik—seringkali sebuah trik yang bagi tikus-tikus di dalam dunia nyata tidak mungkin dilakukan karena memang tidak ada alasan untuk melakukannya. Di satu ujung kurungan duduk si tikus dan di ujung lainnya ada bentuk lingkaran dan bentuk segitigat. Bilut si tikus menekan bentuk yang benar", yang memang itulah yang diharapkan oleh peneliti yang melakukan percobaan--muncullah sepotong kue yang lezat. Bila si tikus menekan bentuk yang salah", yang tidak diinginkan peneliti, ia ahan mendapatkan kejutan listrik. Menurut John Goolad dari Fakulus Pendidikan, pada University California of Los Angeles, inilah yang disebut sebagai pengajaran di sekolah pada pergantian abad, dan sampai hari inipun masih sama tugas, kue, kejutan. Untuk kue dan kejutan, bisa dibaca "wortel dan tongkat”, atau “penguatan positif" dan "penguatan negatif".

 

Penguatan positif di sekolah adalah senyum para guru, menjadi bintang kelas, mendapatkan angka bagus di buku rapor, tercatat oleh kepala sekolah dalam daftar siswa yang patut diperhitungkan dan pada akhirnya bisa masuk ke berbagai perguruan tinggi bergengsi, pekerjaan yang bagus dan menarik, uang dan kesuksesan. Penguatan negatif adalah dimarahi guru, disindir, dihina, mendapat malu, ditertawakan anak lain, terancam gagal, atau disingkirkan, terancam dikeluarkan dari sekolah. Bagi banyak anak miskin, penguatan negatif termasuk pukulan fisik. Pada akhir perjalanan ini terdapat pintu masuk menuju perguruan tinggi kelas rendah atau bahkan tidak masuk ke perguruan tinggi manapun, pekerjaan yang buruk atau bahkan tidak mendapatkan pekerjaan sama sekali, kalaupun ada pekerjaannya membosankan, tidak punya banyak uang atau kemiskinan sama sekali.

 

Perumpamaan yang ketiga mungkin adalah yang paling destruktif dan berbahaya. Perumpamaan ini menggambarkan sekolah sebagai rumah sakit jiwa, sebuah lembaga perawatan. Sekolah, yang peringkat atas maupun bawah, selalu berjalan di bawah aturan yang nyaman sehingga bila terjadi pembelajaran, sekolah pantas diberikan ucapan terima kasih ("Bila kamu bisa membaca, ucapkan terima kasih pada gurumu”); dan bila sebaliknya, siswalah yang harus disalahkan. Sikap menyalahkan biasa disampaikan dalam bahasa yang polos. Di sekolah dasar swasta yang berperingkat tinggi, seorang mantan guru mengatakan demikian: “Bila anak-anak tidak belajar apa yang kami ajarkan, ini dikarenakan mereka malas, tidak tertib, atau mengalami ganggguan mental”, dan hanya sedikit sekali dari teman-teman sesama gurunya yang tidak setuju.

 

Namun belakangan ini, para pendidikan sudah menemukan penjelasan lain dari rendahnya pembelajaran: “ketidakmampuan belajar". Penjelasan ini menjadi populer karena berkaitan dengan hampir setiap orang. Para orangtua siswa gagal dari golongan kelas menengah yang merasa bersalah bisa berhenti bertanya, “Kesalahan apa yang sudah kami lakukan?” Para ahli mengatakan, “Anda tidak melakukan kesalahan apapun; anak hanya mengalami gangguan di kepalanya”. Masyarakat yang marah dan menuntut agar sekolah segera “melakukan sesuatu dan mengajarkan sesuatu pada anak saya” bisa diberitahu, “Maaf, tidak ada yang bisa kami lakukan; ia mengalami ketidakmampuan belajar". 

 

Anak-anak seusia lima atau enam tahun, kali pada hari-hari pertama di sekolah, secara rutin sekarang diberikan kumpulan tes “untuk mengetahui gangguan yang mereka alami”. Beberapa anak bahkan diberitahu oleh gurunya tujuan dari pemberian tes tersebut. Bagian penting dari pseudosains pendidikan sekarang tersusun dari daftar dengan deskripsi berbagai penyakit ini, tes untuk mendiagnosa penyakitpenyakit tersebut, dan berbagai kegiatan yang dirancang untuk merawat mereka tapi hampir tidak pernah dirancang untuk menyembuhkan.

 

“Riset" di balik Tabel-label ini mengalami bias dan tidak terlalu persuasif. Beberapa tahun lalu, pada sebuah konferensi besar para ahli ketidakmampuan belajar, saya bertanya apakah ada yang pernah mendengar-bukan melakukan, tapi hanya mendengar riset yang mengkaitkan kendala perseptual dengan stres. Dari 1100 orang peserta konferensi, ada dua orang yang bertanya. Keduanya mengatakan kepada saya tentang riset yang menunjukkan bahwa bila siswa yang dianggap mengalami ketidakmampuan belajar yang berat ditempatkan di dalam situasi yang relatif bebas stres, maka ketidakmampuan mereka akan segera pulih.

 

***

Perumpamaan kita yang ketiga, seperti dua yang pertama, menampilkan sebuah gambaran palsu dari realitas. Sekolah beranggapan bahwa anak-anak tidak berminat dengan dan tidak terlalu pandai dalam belajar, sehingga tidak akan belajar kecuali dipaksa, tidak bisa belajar kecuali ditunjukkan caranya, dan cara untuk membuat mereka belajar adalah membagi-bagi bahan yang sudah ditetapkan ke dalam urutan tugas-tugas kecil yang harus dikuasai satu persatu, masing-masing dengan kue dan kejutan yang pantas. Dan bila metode ini tidak berhasil, sekolah beranggapan ada yang salah pada anak-anak itu—sesuatu yang harus coba mereka diagnosa dan rawat.

Untuk itulah, perlu dikaji ulang apakah pembelajaran yang sudah ada di sekolah kita siswa-siswi sudah benar-benar belajar atau hanya mengikuti sebuah sistem pembelajaran saja??